Selasa, 03 Januari 2017

Kadang Bikin Emosi



Awalnya sempet ragu ikutan sharing ato ga karna kl dpikir byk cerita tidak enaknya ketimbang yg enak saat pakai pembantu, juga bisa jadi emosi saat membicarakannya, serta agak takut dibilang merusak nama baik kumpulan pembantu" nantinya hhahaha... Tp akhirnya saya pikir tidak apalah sharing disini, siapa tau ada ide atau inisiatif apa yg akhirnya bisa diambil di masa depannya agar lebih baik, karna saya lihat Pak Made Teddy Artiana sering menulis artikel åg berbobot.

Pembantu yg benar sekarang sdh langka, banyakan ga benarnya, begitu pula yayasannya. Dimulai dr waktu pengambilan mrk di makelar atau yayasan, sampai yang sekongkol dgn yayasan agar mereka pulang setelah masa jaminan yg biasanya 3 bln selesai, atau saat minta ganti selalu dibilang tidak ada pengganti. Ada hal åg agak konyol menurut saya,  mereka yang dipekerjakan,  masa calon majikan yang diinterview ?, anggota keluarga berapa, ada piaraan anjing atau tidak, rumahnya tingkat atau tidak, ada teman atau tidak, maunya dipekerjakan berdua dengan temannya. Gaji mau tinggi tanpa mereka sadar tinggal dgn kita, makan gratis, tidak bayar sewa rumah, sakit diobati. Tapi kerjanya asal, belum lagi yang suka nyolong makanan atau harta. Maksud saya disini, kita sebagai calon majikan saja belum mengenal mereka, tidak ada referensi (seperti di luar negri) dari majikan sebelumnya apakah mereka bekerja baik atau tidak, bagaimana tingkah laku mereka tapi kita (mau tidak mau) terima mereka di rumah kita dalam keluarga kita, bahkan untuk menjaga anak,  ygmana jg ada kasus" pembantu åg menyiksa anak majikannya.

Pernah dapat pembantu  pemula yang tdk bisa apapun, kerja apa juga tidak rapi, malas, curi makanan, berbohong, tidak ada niat usaha tapi makannya segunung dan sering pula. Tapi dia bilang ke yayasannya tidak cukup makan ! Olala.... Padahal saya tidak pernah memisahkan makanan mereka,  tidak saya jatah pula.

Ada lagi yg baru saja sampai di rumah sudah bilang tidak betah minta balik, diminta tunggu sampai besok agar diambil oleh pihak yayasan, eh malah dia kabur, sampai akhirnya saya tidak dapat pengganti dan tidak mendapat kembali uang yang telah saya bayar. Untuk pengambilan pembantu saja, kisaran jumlah Rp. 800 rb, mungkin sekarang  1 (satu) juta
åg harus kita keluarkan dari kantong, Itu bukan jumlah åg kecil menurut saya.

Banyak sekali tindakan mereka yang buat kesal dan marah, dan kalau sharing dengan teman"...smua juga mengeluhkan hal åg sama. Memang kita membutuhkan mereka untuk mengerjakan hal" åg tidak sempat kita kerjakan, tapi mereka juga butuh uang dari kita bukan ? Mereka beri tenaga, kita memberi mereka tak hanya gaji, tapi jg makan dan tmp tinggal.

Sering saya perhatikan jika ada kasus mencuat pembantu dianiaya majikan di dalam atau luar negri, seringkali majikan åg disalahkan, tapi adakah mereka lihat dari sisi lain, mengapa mereka diperlakukan seperti itu ? Bukan berarti saya setuju mereka disiksa karna saya juga tidak pernah melakukan hal itu, tapi terkadang perbuatan mereka sendiri åg menyebabkannya, bikin orang naik darah.

Seringkali pihak majikan dirugikan, tapi tidak pernah mendapat perlindungan
åg seharusnya.
Pernah saya baca ada semacam wahana perlindungan untuk para pembantu, tapi adakah wacana perlindungan bagi para majikan agar tidak selalu dirugikan ? Bukankah para majikan adalah pengguna jasa alias konsumen jg ?
Semoga bermanfaat...
Salam,
Lina

Tidak ada komentar:

Posting Komentar