Awalnya
sempet ragu ikutan sharing ato ga karna kl dpikir byk cerita tidak enaknya
ketimbang yg enak saat pakai pembantu, juga bisa jadi emosi saat
membicarakannya, serta agak takut dibilang merusak nama baik kumpulan
pembantu" nantinya hhahaha... Tp akhirnya saya pikir tidak apalah sharing
disini, siapa tau ada ide atau inisiatif apa yg akhirnya bisa diambil di masa
depannya agar lebih baik, karna saya lihat Pak Made Teddy Artiana sering
menulis artikel ♑å♌g berbobot.
Pembantu yg
benar sekarang sdh langka, banyakan ga benarnya, begitu pula yayasannya.
Dimulai dr waktu pengambilan mrk di makelar atau yayasan, sampai yang sekongkol
dgn yayasan agar mereka pulang setelah masa jaminan yg biasanya 3 bln selesai,
atau saat minta ganti selalu dibilang tidak ada pengganti. Ada hal ♑å♌g agak
konyol menurut saya, mereka yang dipekerjakan, masa calon majikan
yang diinterview ?, anggota keluarga berapa, ada piaraan anjing atau tidak,
rumahnya tingkat atau tidak, ada teman atau tidak, maunya dipekerjakan berdua
dengan temannya. Gaji mau tinggi tanpa mereka sadar tinggal dgn kita, makan
gratis, tidak bayar sewa rumah, sakit diobati. Tapi kerjanya asal, belum lagi
yang suka nyolong makanan atau harta. Maksud saya disini, kita sebagai calon
majikan saja belum mengenal mereka, tidak ada referensi (seperti di luar negri)
dari majikan sebelumnya apakah mereka bekerja baik atau tidak, bagaimana
tingkah laku mereka tapi kita (mau tidak mau) terima mereka di rumah kita dalam
keluarga kita, bahkan untuk menjaga anak, ygmana jg ada kasus"
pembantu ♑å♌g menyiksa anak majikannya.
Pernah dapat
pembantu pemula yang tdk bisa apapun, kerja apa juga tidak rapi, malas,
curi makanan, berbohong, tidak ada niat usaha tapi makannya segunung dan sering
pula. Tapi dia bilang ke yayasannya tidak cukup makan ! Olala.... Padahal saya
tidak pernah memisahkan makanan mereka, tidak saya jatah pula.
Ada lagi yg baru saja sampai di rumah sudah bilang tidak betah minta balik, diminta tunggu sampai besok agar diambil oleh pihak yayasan, eh malah dia kabur, sampai akhirnya saya tidak dapat pengganti dan tidak mendapat kembali uang yang telah saya bayar. Untuk pengambilan pembantu saja, kisaran jumlah Rp. 800 rb, mungkin sekarang 1 (satu) juta ♑å♌g harus kita keluarkan dari kantong, Itu bukan jumlah ♑å♌g kecil menurut saya.
Banyak
sekali tindakan mereka yang buat kesal dan marah, dan kalau sharing dengan
teman"...smua juga mengeluhkan hal ♑å♌g sama. Memang kita membutuhkan
mereka untuk mengerjakan hal" ♑å♌g tidak sempat kita kerjakan, tapi
mereka juga butuh uang dari kita bukan ? Mereka beri tenaga, kita memberi
mereka tak hanya gaji, tapi jg makan dan tmp tinggal.
Sering saya
perhatikan jika ada kasus mencuat pembantu dianiaya majikan di dalam atau luar
negri, seringkali majikan ♑å♌g disalahkan, tapi adakah mereka
lihat dari sisi lain, mengapa mereka diperlakukan seperti itu ? Bukan berarti saya
setuju mereka disiksa karna saya juga tidak pernah melakukan hal itu, tapi
terkadang perbuatan mereka sendiri ♑å♌g menyebabkannya, bikin orang naik
darah.
Seringkali pihak majikan dirugikan, tapi tidak pernah mendapat perlindungan ♑å♌g seharusnya.
Pernah saya baca ada semacam wahana perlindungan untuk para pembantu, tapi adakah wacana perlindungan bagi para majikan agar tidak selalu dirugikan ? Bukankah para majikan adalah pengguna jasa alias konsumen jg ?
Semoga
bermanfaat...
Salam,
Lina
Lina
Tidak ada komentar:
Posting Komentar